Gending-Gending Tari Kreasi Baru Karya Bagong Kussudiharjo

Berawal dari Malam Peringatan Tujuhbelasan th 2008 yang lalu, istri saya mendapat job sampingan, memanfaatkan kebisaan yang dipelajari sejak kecil , yaitu tari Jawa. Perumahan yang kami huni sejak Februari 2008 ini memang tidak sekelas Cluster atau regency tp nasionalisme yang terekam lewat partisipasi warga dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI patut mendapat acungan jempol. Sebenarnya kalo yang dilihat penampilan atau sajian pertunjukan, memang terasa membosankan, karena dari awal pertunjukan sampai dengan akhir hanya diisi tariaaan teruss. Selingan yang ada cuman penyerahan hadiah akibat lomba tujuhbelasan yang diikuti oleh anak-anak yang itu-itu juga, ha…ha…tidak ada lagu, tidak ada band, malah gerak dan lagu ( mini operet )sebagai selingan tari tradisional diperagakan oleh Para Bapak, serta sedikit sulap oleh Pak Kasto, dedengkot kita.

Tari yang tampil , mencapai 12 tarian karena 1 rw mencakup 4 rt dan tiap rt rata-rata menyumbang 3-4 tarian. Akhir yang happy ending , karena acara tuntas dengan sukses menghapus jerih lelah sebelumnya , yaitu dari pengajaran tari ke anak-anak yang susah nyantol pelajaran, sampai susahnya dapat kaset untuk pengajaran tari-tari tersebut. Dari HUNTING kaset-kaset iringan tari tersebut didapatlah ==>Kaset-kaset yang menjadi buruan kami

GENDING-GENDING TARI KREASI BARU
KARANGAN BP BAGONG KUSUDIHARJO

VOLUME 1 ( KB-I )

INDEX 1
1.Tari Wira Pertiwi
2.Tari Kuda Lumping
3.Tari Satria
4.Tari Mulat Wani
5.Tari Reyog

INDEX 2
1.Tari Nyai Ronggeng
2.Tari Golek
3.Tari Tani
4.Tari Ngremo

VOLUME 2 (KB-II)

INDEX 1
1.Tari Merak
2.Tari Gambyong
3.Tari Permainan Anak
4.Tari Tenun

INDEX 2
1.Tari Kelana Topeng
2.Tari Lenggotbawa
3.Tari Domba
4.Tari Satria Tangguh
5.Tari Kijang

VOLUME 3 (KB-III)

INDEX 1
1.Tari Yapong
2.Tari Payung
3.Tari Angsa
4.Tari Bhayangkari
5.Tari Karapan Sapi

INDEX 2
1.Tari Kuda-Kuda
2.Tari Batik
3.Tari Bhayangkara
4.Tari Keris Ceribon
5.Tari Ikan

VOLUME 4 (KB-IV)

INDEX 1
1.Tari Keris
2.Tari Kelana Panji
3.Tari Keprak
4.Tari Chandra Dewi
5.Tari Cepet Cipit
6.Tari Gembira

INDEX 2
1.Tari Retna Lelewa
2.Tari Perisai
3.Tari Perajuritan
4.Tari Baladewan
5.Tari Jaran Teji
6.Tari Kupu-Kupu

VOLUME 5 (KB-V)

INDEX 1
1.Tari Blek Dit Dot
2.Tari Igel-igelan

INDEX 2
1.Tari Radyan Asmara
2.Tari Topeng
3.Tari Golek Ayun-ayun

VOLUME 6 ( KB-VI )

INDEX 1
1.Tari Pesta Desa
2.Tari Gedruk-gedruk
3.Tari Langen Kusuma

INDEX 2
1.Tari Panji Semirang
2.Tari Gembira

Posted in Blog | 5 Comments

Broken Windows, Broken Business

Naik kereta api KRL pulang ke rumah,

Kereta penuh, yang sudah dapat tempat duduk cuek. Courtesy yang pernah diajarkan seakan lenyap atau mungkin kita memang nggak pernah liat contoh di kehidupan nyata, Pemimpin yang diharapkan dapat memberi contoh, malah bertingkah semaunya sendiri.

Sekarang ini kita udah nggak sulit lagi menemukan orang yang tidak punya courtesy , Merokok di gerbong atau bus yang sudah penuh sesak. Membiarkan orang hamil , lansia, penyandang cacat, berdiri sedangkan dia yang sehat dan kuat berdiri malahan enak-enakan duduk, mulai awal kereta jalan sampai dia benar-benar sampai di tempat tujuan tanpa mau berbagi sedikitpun ruang dengan orang lain, sengaja tidur atau pura-pura tidur ( lho…tidur koq tahu kalo mau nyampe tujuan…?) . Courtesy memang sesuatu yang sulit dicari di sini. Begitu kita keluar rumah kita akan dengan mudah menemukan contoh-contoh nyata pelanggaran courtesy ini, sebenarnya kalau di acara tv mulai banyak ditayangkan acara yang menunjukkan kepada kita “borok kita” dalam pelanggaran courtesy, semacam “John Pantau” dari Trans TV dan “Snapshot” a’la Metro TV. Maka akan semakin terbukalah mata kita, orang yang tadinya tidak tahu akan jadi tahu dan yang sudah tahu tapi pura-pura tak tahu akan cepat nyadar.

Jika courtesy diabaikan maka yang kemudian timbul adalah rasa dongkol dari orang-orang yang merasa terabaikan haknya. Orang makin acuh dengan keteraturan, mulai mengabaikan hak orang lain juga, enggan menegur orang lain yang berbuat salah, pura-pura tidak melihat tau “sengaja” membiarkannya. Sampah-sampah yang berserakan, coretan-coretan di dinding kereta-bus-tembok, meludah sembarangan ( saya pernah melihat ibu-ibu berdandan sok borjuis meludah di dalam tempat sampah di depan lift suatu gedung bertingkat, What the f**** is she thinkin’ about she’s doing !!)
Pada akhirnya tindakan membiarkan ini akan merembet menulari orang yang tadinya bertingkah bener menjadi ikut-ikutan nggak bener, ketidakteraturan inilah yang kemudian hari melahirkan kejahatan sampai pada waktunya,….ceila kaya ahli ya? analisa saya…he..he….

Ada contoh bagus, di New York, Walikota New York Rudy Giulliani dapat menurunkan angka tingkat kejahatan hingga 50%, resepnya adalah membenahi ketidakteraturan dengan pembenahan-pembenahan kecil. Kereta api yang kacanya pecah akan masuk depo dan tidak akan dijalankan sampai kerusakan diperbaiki. Coretan-coretan dihapus, dicat ulang, pintu-pintu yang rusak diperbaiki. Karena kereta diperbaiki maka jadwal sedikit terganggu. Konsumen kereta akan sadar kalau kereta rusak meskipun tidak mekanis akan mengganggu ritme jadwal kereta yang berimbas ke mereka. Sang Walikota menerangkan tentang teory Broken Windows, ibarat suatu bangunan, kaca jendela yang dibiarkan rusak akan menimbulkan anggapan orang-orang bahwa kita boleh merusak kaca yang lain, jika ini dibiarkan akan  merusak seluruh fisik bangunan pada akhirnya.

Pagi ini sewaktu browsing di internet saya menemukan buku baru yang menerangkan tentang teori Broken Windows atau kaca – kaca yang pecah berjudul “Broken Windows, Broken Business” , disitu , Teori “Broken Windows” ini ditulis ulang oleh Michael Levine untuk konsumsi eksekutif dan pebisnis lewat bukunya “Broken Windows, Broken Business“.

Posted in Blog | 2 Comments

Bangsa yang abai

Pulang Kerja, capek……ngantri di St Dukuh Atas Sudirman.

Konon para penumpang yang naik KA dari Stasiun ini adalah orang yang berpendidikan. Orang Intelek, berpendidikan, bergaji tinggi, kerja kantoran lah. Bau badannyapun wangi-wangi. Yang cewek cakep-cakep, putih,

Kereta datang,….kerumunan berubah jadi barisan menyamping di depan batas yang tipis sekali antara badan kereta dan tempat mereka berdiri……lakilaki – perempuan, tua-muda ,kuat- lemah, gemuk-kurus, hamil – tidak, dan mak BRuull !! begitu kereta berhenti ; semua pada rebutan, takut nggak kebagian tempat duduk , saling sikut , saling injak, saling dorong. Tidak melewatkan kesempatan sedikitpun , celah sesempit apapun tetap dipaksakan untuk bisa diduduki. Tanpa memedulikan tetangga sebelah yang sudah duduk duluan.

Aneh ! Pedagang makanan ringan bisa berkeliaran di dalam gerbong yang seharusnya steril, sampah mulai terlihat mulai kertas koran yang dipakai sebagai alas duduk dan tidak dilipat kembali, bungkus kacang yang merana terbuang karena sudah tandas isinya. Botol-botol air mineral berserakan

Tempat duduk khusus lansia, penyandang cacat, wanita hamil pun tak tersisa, stiker larangan,tinggal stiker yang tidak berbunyi apa-apa, tidak berbunyi. Semua tak acuh. Tidak ada yang berusaha menegur,tidak ada yang berusaha mengingatkan, seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah lumrah.

Penurunan kualitas sudah mulai terlihat, kereta “bekas” yang masih “baru” yang tadinya kinclong terawat, mulai jelas kemana arah pastinya, mulai kusam, kotor, dan tak terawat. Semua tak acuh…..Ahh….Kita memang Bangsa yang tidak bisa menjaga milik kita sendiri. Hanya bisa mempunyai tanpa  rasa memiliki.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Milik dan Melik

Pleonoxia,

diambil dari catatan pinggir Gunawan Mohammad

Apa gerangan yang akan dikatakan pangeran Jawa yang meninggalkan istana itu, Ki Ageng Suryomentaram, seandainya ia hidup pada hari ini? Seandainya ia berjalan di Sudirman Business District, Jakarta, antara Pacific Place yang memamerkan benda-benda mentereng dan ruang BEJ di mana harga saham rontok, para pemilik dana panik, dan di langit-langitnya bergaung rasa cemas?

Mungkin inilah yang akan kita dengar dari Ki Ageng: ”Yang menangis adalah yang berpunya. Yang berpunya adalah yang kehilangan. Yang kehilangan adalah mereka yang ingin.”

Tapi mungkin tak seorang pun akan memahaminya.

Ia memang lain. Ia lahir pada 20 Mei 1892 di Keraton Yogyakarta. Ia pangeran ke-55 di antara sederet putra Sultan Hamengku Buwono VII. Ibunya seorang garwa ampilan. Pengeran kecil ini bersekolah di Srimenganti, yang dikelola istana. Pendidikan formalnya tipis, tapi ia berbahasa Belanda dengan baik, dan kemudian belajar bahasa Arab dan Inggris. Dan ia membaca.

Pada umur 18 ia jadi Pangeran, dengan gelar ”Bendara Pangeran Harya Suryomentaram”. Kita tak tahu bagaimana hidupnya pada masa itu, tapi ada sebuah kejadian yang membuat masa depannya berubah.

Dalam sebuah tulisan yang dimuat jurnal Archipel (nomor 16, tahun 1978), Marcel Boneff menceritakan kembali kejadian itu. Pada suatu hari, dalam perjalanan ke sebuah pesta perkawinan di Keraton Surakarta, dari jendela kereta api sang Pangeran melihat ke luar. Di bentangan sawah, sejumlah manusia berkeringat, bersusah payah, mencari sesuap nasi. Sementara itu di gerbong itu ia duduk dengan megah dan nyaman: kenikmatan yang diperolehnya semata-mata karena ia dilahirkan di suatu tempat yang tak harus diraih. Bisakah ia berbahagia?

Sejak itu Suryomentaram mempertanyakan hal yang oleh orang lain didiamkan: arti benda bagi hidup, arti punya bagi manusia.

Dalam bahasa Jawa ada dua kata yang hampir mirip, milik dan mélik. Yang pertama berarti ”punya” atau ”harta”. Yang kedua berarti ”keinginan yang cemburu untuk mendapatkan sesuatu”.

Kini milik begitu penting dan mélik dilembagakan sebagai perilaku yang wajar; keduanya dianggap bagus buat pertumbuhan ekonomi. Dan jika dari kesibukan dengan milik dan mélik itu lahir sifat tamak, Sudirman Business District adalah saksinya. Di sini bergema kata-kata Walter Williams, ekonom dari George Mason University, tentang the virtue of greed: ”Sebutlah itu tamak, atau egoisme, atau kepentingan diri yang tak sempit, tapi akhirnya motivasi inilah yang membuat hal ihwal jadi”.

Mungkinkah itu sebabnya ”pasar”—yang digerakkan milik dan mélik—tak mudah ditertibkan oleh Negara? Bank sentral dan kementerian keuangan di seluruh dunia bergerak. Mereka hendak membendung arus jatuh pasar saham, yang makin mempengaruhi perekonomian secara keseluruhan. Tapi sejauh ini sia-sia. Sejauh ini tampak bahwa Negara, yang bekerja untuk kepentingan umum, tak berdaya menghadapi pasar yang tamak yang tak mengacuhkan res publica.

Yang tak selamanya disadari adalah cepatnya gerak milik dan mélik pada zaman ini. Bersama cepatnya alir kekayaan dari tempat ke tempat—ya, itulah globalisasi—terjadilah akselerasi hasrat. Kepuasan akan satu benda dengan segera dihapus oleh hasrat baru. ”Benda”—yang telah berubah jadi komoditas—kini jadi lambang ke-baru-an. Maka ada orang yang punya 10 mobil Jaguar: ketika puas hilang, satu Jaguar lagi terbilang. Terus-menerus.

Menyimpan akhirnya jadi tak menarik. Masa depan, ditandai dengan yang ”baru”, jadi kian cepat tiba. Menabung kehilangan alasannya. Kapitalisme zaman ini makin mengukuhkan dalil Leon Levy (”investor genius dari Wall Street”, kata majalah Forbes), bahwa ”tiap satu persen tabungan naik di masyarakat, laba perusahaan akan turun 11 persen”.

Ada yang patologis dalam gejala itu. Kita hidup dengan ”pleonoxia”, penyakit jiwa yang didera keinginan segera mendapatkan lagi, lagi, lebih, lebih.

Itu sebabnya saya teringat Ki Ageng Suryomentaram. Apa gerangan yang akan dikatakannya? Pada masa hidupnya, ia tauladan. Ia melihat bagaimana pleonoxia datang setapak demi setapak. Pangeran itu mencegahnya dengan drastis: ia meninggalkan keraton. Sebelum umurnya 30, ia mengajukan surat agar gelar Pangerannya dibatalkan. Salah satu bangsawan terkaya di Yogyakarta ini pun memberikan mobilnya kepada sopirnya, menyerahkan kuda-kudanya kepada pekatiknya. Lalu ia berangkat ke arah Banyumas. Ia memakai nama ”Notodongso” dan praktis menghilang. Ketika Raja menyuruh orang mencari putranya yang ganjil ini, mereka menemukannya di Kota Kroya: sedang menggali sumur.

Apa yang dicarinya? ”Suprana-supréné, aku kok durung tau kepethuk wong,” konon begitulah yang dikatakannya. ”Selama ini, aku belum pernah berjumpa manusia.” Ia tahu, manusia lebur di antara milik dan mélik.

Syahdan, ia pun memilih hidup sebagai petani di Dusun Bringin. Orang melihatnya selalu hanya memakai kathok pendek hitam, tak bersandal. Di lehernya terkalung sehelai batik bermotif parang rusak barong yang konon melambangkan resistansi. Mungkin dengan itulah manusia muncul, kadang-kadang: dalam menampik tamak, ia mencintai hidup dengan cara sederhana, menghargai liyan dengan mulut membisu.

Syahdan, pada suatu hari ia hendak pergi naik bus. Menjelang masuk, seorang penumpang lain yang menyangka Suryomentaram seorang kuli menyerahkan sebuah koper agar diangkat. Dengan patuh Ki Ageng meletakkannya di dalam bus— dan segera setelah itu, ia turun lagi. Ia membatalkan pergi. Ia tak ingin penumpang tadi jadi malu, telah salah menyuruhnya.

Begitu merendah—seorang yang tak akan kelihatan dari lantai tinggi Sudirman Business District, seorang yang seakan-akan menunjukkan: ”Lihat, tanganku di dekat akar rumput. Lebih banyak yang bisa kita sentuh. Lebih banyak ketimbang yang bisa kau rengkuh.”

Posted in inspiratif | Leave a comment

Weblog ringkas di www.plurk.com

Bagi yang suka ngeblog tapi nggak mau ribet-ribet ada weblog yang cukup ringkes , kita cuman ngisi maks 140 karakter sekali ngepost, mirip kirim sms aja, themenya bisa diganti-ganti juga kalo kita orang yang cepet bosenan….ada banyak pilihan

Mirip-mirip ngisi buku agenda, karena ada time line yang berjalan dengan terus.

Udah ah…masuk aja langsung ke www.plurk.com

 

Posted in Blog | Leave a comment

Gaji Papa Berapa?

http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di
Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah,
putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama. “Kok, belum tidur ?” sapa Andrew
sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika
ia akan berangkat ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Aku
nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”
“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam
dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.
Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa
dalam satu bulan berapa, hayo ?”
Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara
Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak
menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. “Kalo satu
hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji
Rp.40.000,- dong” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew
Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti
pakaian,Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,-
enggak ?”"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang
malam-malam begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.
“Tapi Papa…” Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya
Mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang
terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya. Sambil
berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, “Maafkan
Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam
begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih
dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew”Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya
pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan
selama minggu ini”.”lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.
“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga
puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,-
tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam
aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000, makanya
aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos.
Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu
erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan
harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan
anaknya.

(NN)
http://www.gsn-soeki.com/wouw/

Posted in inspiratif | Leave a comment

Bau Keringat

 
diambil dari http://www.gsn-soeki.com/wouw/?koleksi-artikel-utk-semuaSetiap Minggu pagi aku pergi ke gereja untuk berbakti. Dan selalu duduk
di bangku nomer dua dari belakang. Menjelang Natal, pengunjung gereja
pun mulai meningkat. Dan kebanyakan orang mempunyai kesenangan sama
denganku, yakni duduk di bangku bagian paling belakang. Seperti hukum
tak tertulis saja.

Di tengah-tengah kebaktian, ketika aku sedang konsentrasi untuk
mendengarkan pendeta yang sedang berkotbah. Tiba-tiba tercium bau
keringat seseorang yang menyengat hidungku. Ku lihat ada tiga orang
wanita juga menutup hidung mereka dengan tissue Aku asumsikan mereka
juga mencium baru keringat itu.

Selesai kebaktian, masih pula tercium bau keringat tersebut. Dan hal itu
membuatku lebih heran dan penasaran. Siapakah orang yang mempunyai bau
keringat tersebut? Aku mencoba memperhatikan beberapa orang di sekitarku
duduk. Untuk mencari kira-kira dari arah mana bau keringat tersebut
tersebar. Pilihanku jatuh pada seorang pria yang duduk di bangku paling
belakang. Dengan rambutnya yang sebagian telah memutih dan pakaian yang
sederhana cukup mudah untuk dikenali, bahwa penampilan om tersebut
tampak beda dengan Jemaat yang lain. Akupun mencoba menghampiri dan
menyapanya. Dugaanku memang tidak salah, bau keringat tersebut tercium
lebih tajam, setelah aku berdiri di hadapannya. Aku juga baru mengenal
om itu untuk pertama kali. Aku memanggil dia om Nusa.

Minggu depannya, aku melihat om Nusa kembali duduk di barisan bangku
paling belakang. Waktu kebaktian aku mencium bau keringat kembali. Dan
beberapa orang juga menutup hidung mereka. Dugaanku, bau keringat itu
berasal dari om Nusa. Aku merasa tidak enak jika ingin memberi tahu
tentang hal ini secara langsung. Maka aku ada akal. Kebetulan saat itu
menjelang Natal, maka tidak ada salahnya jika aku memberi om Nusa sepaket
kebutuhan sehari-hari termasuk sabun mandi dan penghilang bau badan. Aku
tidak ingin om Nusa tersinggung.

Dua minggu kemudian bertemu dengan om Nusa lagi. Aku bertanya, apakah
paket kebutuhan sehari-hari itu sudah dipakainya. Dia sangat senang
dengan paket tersebut dan telah memakainya. Aku pun juga senang kalau om
Nusa telah memakai pemberianku. Cuma yang membuatku masih heran dan
penasaran, waktu kebaktian tadi, aku masih mencium bau keringat. Setelah
mengajak om Nusa mengobrol lebih lama dan lebih jauh lagi. Aku baru
tahu, kalau om Nusa termasuk kategori lansia dengan usia kepala enam.
Dia hidup sendiri, istrinya telah meninggal, anak-anaknya telah
berkeluarga dan tidak mau tinggal bersama dengan om Nusa. Uang pemberian
anak-anaknya tidak mencukupi untuk biaya hidupnya. Maka om Nusa harus
bekerja untuk mendapatkan uang tambahan. Pada hari Minggu pagi pun om
Nusa harus bekerja di pabrik pemotongan ikan. Setelah selesai bekerja,
om Nusa berjalan kaki menuju ke gereja, yang ditempuhnya dengan kurang
lebih setengah jam!

Di atas kepalaku seakan menyala lampu halogen yang sangat terang. Aku
baru menyadari, dengan berjalan kaki kurang lebih setengah jam, maka
tidak heran om Nusa berkeringat. Aku pun bertanya padanya, mengapa om
Nusa tidak mau naik kendaraan umum saja untuk pergi kegereja, supaya
tidak bersusah payah kelau ke gereja. Jawabnya sederhana, biar uang
untuk angkutan umum itu bisa ditambahkan dengan uang persembahan yang
telah dipersiapkannya.

Aku pun tertegun mendengar jawaban om Nusa tersebut. Pintu hatiku seakan
diketuk untuk disadarkan setelah mendengar jawaban itu. Aku sebelumnya
menyangka bukan-bukan tentang om Nusa. Kini aku lebih menyadari bahwa
dugaanku dengan hanya melihat penampilan om Nusa dari luar saja, itu
ternyata salah besar. Dan aku tidak pernah berpikir apa yang terjadi
sebenarnya. Apakah kebanyakan dari kita seperti demikian ? Ketika kita
berhadapan dengan seseorang yang sederhana (terutama di gereja), kita
belum-belum sudah mempunyai prasangka negatif terhadap seseorang
tersebut.

Ah, Tuhan seakan memberikan suatu pelajaran buatku, lewat caraNya yang
unik. Karena dengan mencium bau keringat di waktu kebaktian itu, aku
beroleh suatu pelajaran dari seorang tua yang sederhana. Dan aku
mengenal satu jemaat lagi di gerejaku. Bukankah kita seringkali dalam
satu gereja tidak pernah bertegur sapa dengan jemaat yang lain?
Seringkali kita tidak pernah mengenal dan tidak mau mengenal jemaat yang
duduk di sebelah kiri, kanan, depan, belakang kita. Sepertinya tujuan
kita ke gereja itu begitu ‘agung’-kah kita datang ke gereja hanya untuk
beribadah kepada sang Pencipta kita. Kita tidak peduli dengan orang
lain. Tetapi Tuhan mempunyai keinginan yang berbeda dengan kita. Tuhan
menginginkan kita untuk dapat bersekutu dengan sesama kita juga.

Dari bau keringat om Nusa, aku dapat mengetahui masalah om Nusa yang
terbatas dalam transportasi. Dan aku dapat memasukkan nama om Nusa dalam
daftar doaku pula. Bukankah itu yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan?
Kita dapat menolong sesama saudara seiman kita dan mendoakan. Jika kita
tidak mengenal jemaat lain yang dalam masalah bagaimana kita dapat
menolong atau mendoakan mereka ?

Setelah kejadian hari Minggu itu, pada minggu-minggu berikutnya aku pun
dapat berbakti dengan tenang, tidak terganggu oleh bau keringat lagi.
Karena sekarang om Nusa pergi ke gereja bersamaku dengan mengendarai
mobil, sehingga om Nusa tidak perlu berjalan kaki dan “berkeringat”.

Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam
kasih dan dalam pekerjaan baik.

(Ibrani 10:24)

Posted in inspiratif | Leave a comment

Iri Tiada Henti

diambil dari : http://www.gsn-soeki.com/wouw/a000149.php

Ada seorang pemecah batu yang melihat seorang kaya. Iri dengan
kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi orang kaya.
Ketika ia sedang bepergian dengan keretanya, ia harus memberi jalan
kepada seorang pejabat. Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba ia berubah
menjadi seorang pejabat.

Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik
matahari. Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari.
Ketika ia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya.
Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan.
Ketika ia sedang berarak di langit, angin menyapunya. Iri dengan
kekuatan angin, tiba-tiba ia berubah menjadi angin.

Ketika ia sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung. Iri dengan
kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung.
Ketika ia sedang bertengger, ia melihat ada orang yang memecahnya.
Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun sebagai pemecah batu.
Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu.

Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada
yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini
baik-baik saja kok… sampai Anda mulai membanding-bandingkan.

Kata Sang Guru: “Rasa berkecukupan adalah kekayaaan terbesar.”
Pengejaran keuntungan, ketenaran, pujian, dan kesenangan bersifat
tiada akhir karena roda kehidupan terus berputar, silih berganti
dengan kerugian, ketidaktenaran, celaan, dan penderitaan.
Inilah delapan kondisi duniawi yang senantiasa mengombang-ambingkan
kita sepanjang hidup.

Kebahagiaan terletak pada kemampuan untuk mengembangkan pikiran
dengan seimbang, tidak melekat terhadap delapan kondisi duniawi.
Boleh-boleh saja kita menjadi kaya dan terkenal, namun orang bijaksana
akan hidup tanpa kemelekatan terhadap delapan kondisi duniawi.
Kebahagiaan sejati tidaklah terkondisi oleh apa pun. Be Happy!

Posted in inspiratif | 2 Comments

LENTERA JIWA

source:http://www.kickandy.com/index. php?ar_id= MTEzOA==

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin
redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang
yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena ¡pecah kongs dengan Surya
Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak
menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power
yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita,
tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan
sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang
beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah
Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang
kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan
diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya
kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa
mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam.
Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan
tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak
lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya
ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi
Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka
hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu
selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan
habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika
keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain.
Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun
persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak
sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat
lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh
seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak
perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia
memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang
hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu
sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi
sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak
dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa
nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi
perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah,
dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang
menghentak-hentak di dalam dada… Ada gairah yang luar biasa yang
mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang
selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah
tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya.
Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan
Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin
disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah
sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.
Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa
tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang
sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing,
mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata
tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang
pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai
dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah
mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia
tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga
menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka
tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi
apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata
putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling
banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang — dan membuat mereka
tidak bahagia — adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008),
kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar
dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan
Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis
untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih
menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya
sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini
memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya
kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara
mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk
menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat
beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi.
Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka
mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama
memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan
komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku
ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai
public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan
yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak
tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang
dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu
gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi.
Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu
personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone.
Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak
heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu
melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena
saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya.
Hidup saya, katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka
yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah
menemukan lentera jiwa mereka.[]

Posted in inspiratif | Leave a comment

My Life, My Treasure, My Sunshine

Pandu – My Sunshine

Anak kami yang pertama , laki-laki, lahir lewat operasi caesar yang dilakukan di RS DKT( Dinas Kesehatan Tentara ) di daerah Kotabaru, Yogyakarta. Terlahir pada hari Sabtu, tanggal 28 Desember 2002 pukul 19:00 dengan BB : 2.950 gr Panjang : 50 cm

WILLIAM

Nama Lengkapnya adalah William Pandu Ananta , William berasal dari Kata “wili” yaitu gabungan nama saya dwi dan yulitta istri saya, tetapi william juga bermakna “Mighty saviour, warrior, guardian” yaitu Penjaga yang Perkasa,

PANDU

Sedangkan Pandu adalah tokoh wayang yang saya kagumi karena dari dialah tokoh Pandawa berasal….ya , dialah tokoh pewayangan yang menurunkan Para Pahlawan Pandawa. (Dari kecil saya sangat suka wayang gara-gara sering disuruh Bapak menemani saudara Ibu dari desa yang menginap di rumah kami sewaktu di Solo; menonton pertunjukan wayang orang di Taman Sriwedari Solo. Ibu sangat hapal nama tokoh nama negeri dan hubungan antar tokoh antara satu dengan lainnya. Jadi beberapa tokoh wayang sangat melekat di benak saya). Selain itu sebenarnya Pandu juga merujuk pada tanggal kelahiran juga DUa DelaPAN.

ANANTA

Ananta berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya Maha, Megah, Besar, Agung. Nama ini saya pilih sebagai harapan dan doa agar kelak dia bisa tumbuh menjadi “Orang Besar” he..he…narsis yak?

Our 1st Wedding Anniversary Gift from God

Tanggal Lahirnya yang 28 Desember itu juga suatu mukjizat , karena tanpa perencanaan kami , sebenarnya kalau semua berjalan sesuai “jadwal perkiraan lahir” maka Pandu akan terlahir pada tanggal 27 Desember, yaitu bertepatan dengan ultah pernikahan kami yang pertama .Tetapi karena dia tidak mau “keluar” pada tanggal itu jadi dia memundurkan kedatangannya 1 hari, tanggal 28 Desember kemudian, itupun dengan perjuangan yang luar biasa dari Ibunya yang menahan kesakitan sejak Jumat Siang 26 Desember 2002 dan diakhiri di meja bedah caesar. Salut untuk perjuanganmu istriku !

Thank You God for Keeping and Feeding our family , Ameen

Posted in pandu | Leave a comment